[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”4.9.11″ _module_preset=”default”][et_pb_row _builder_version=”4.9.11″ _module_preset=”default”][et_pb_column _builder_version=”4.9.11″ _module_preset=”default” type=”4_4″][et_pb_text _builder_version=”4.9.11″ _module_preset=”default” hover_enabled=”0″ sticky_enabled=”0″]
ADILOKA.NEWS. Saat ini mungkin kita seringkali mendengar sebuah kata “Zaman Milenial” atau “Generasi Milenial”, Istilah generasi milenial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers.
Berdasarkan data BPS 2018, jumlah generasi millennial berusia 20-35 tahun mencapai 24 persen, setara dengan 63,4 juta dari 179,1 juta jiwa yang merupakan usia produktif (14-64 tahun), pemuda seringkali disebut sebagai penentu masa depan Indonesia. Inilah yang disebut sebagai bonus demografi. Bahkan di dunia kerja hampir separuh lebih generasi milenial turut andil di dalamnya. Oleh karena itu agar bisa terjadi keharmonisan antara generasi milenial dan generasi sebelumnya, maka perlu memanajemen generasi milenial dengan baik sehingga bisa sejalan dengan tujuan organisasi.
- Generasi milenial seringkali dikenal dengan gayanya yang suka foya-foya dan kegiatan unfaedah misalnya untuk nongki di kafe instagramable atau pergi ke tempat-tempat yang asyik untuk foto-foto. Oleh karena itu dalam pekerjaan selain gaji, generasi milenial butuh Experience dan Pengembangan Diri.
- Berdasarkan riset, generasi milenial biasanya akan mulai ada fase jenuh di tahun ke 2-3, mereka suka mencari tantangan lain. Generasi milenial akan melalui fase yang disebut s-learning curve, di fase awal mereka akan mengalami namanya hypergrowth dimana mereka bisa kerja seperti kesetanan apapun dihajar setiap disuruh apapun akan dikerjakan asal bisa memuaskan rasa ingin tahu mereka. Lalu masuk fase selanjutnya saat mereka sudah mulai tahu dan terbiasa, maka kita perlu waspada karena disaat fase itu ada fase bosan, maka disinilah sebuah organisasi harus memberikan Experience dan Pengembangan Diri.
- Generasi milenial memiliki sebuah vision, sehingga menjelaskan value apa yang harus dimiliki dalam organisasi dan mimpi apa yang akan dikejar oleh organisasi sangatlah penting untuk generasi milenial, sehingga bisa ditanamkan juga ke dalam visi mereka.
- Generasi milenial seringkali berpikir idealis sehingga generasi milenial tidak bisa langsung pointing. Misalnya kerjaan mereka kurang beres, terus mereka dimarahin secara langsung di depan umum akan membuat generasi milenial menjadi illfeel. Ketika berkomunikasi dengan generasi milenial tidak bisa langsung to the point tapi perlu panjang kali lebar diberi arahan secara baik-baik.
- Generasi milenial suka akan apresiasi yang akan meningkatkan gairah mereka. Sekecil apapun bentuk apresiasi misal kata “Terima Kasih” sangatlah berharga bagi mereka.
Inti dari pengelolaan generasi milenial tidak melulu orientasi ke uang tetapi orientasi ke Experience, Pengembangan Diri dan Komunikasi (NZ).
Millenial memiliki mimpi yang besar dan lebih susah diatur. Tetapi mereka pintar, jadi kita harus menyediakannya dengan kepercayaan dan tujuan (A.Zakky-CEO Bukalapak)
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
