ADILOKA.NEWS. Bisnis konveksi sebagai usaha yang menjanjikan keuntungan omsetnya merupakan hal yang wajar, karena sebagai bisnis skala rumahan ini adalah memproduksi segala jenis pakaian yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Ditambah dengan banyaknya sumber daya manusia dan bahan baku didalam industry di Indonesia, serta didorong dengan adanya perkembangan teknologi yang mendukung dalam memasarkan bisnis konveksi tersebut. Dengan begitu pesatnya perkembangan teknologi seperti sekarang ini, bentuk pemasarannya pun mudah dan efektif dengan sistem penawaran online, karena mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas dari semua penjuru.
Seperti halnya yang dialami Attoillah, awal merintis bisnis konveksi karena warisan dari orang tua, meskipun warisan ia memegang teguh amanah ini untuk membuat bisnis peninggalan orang tuanya menjadi lebih maju, terlebih lagi karena sudah terbentuk market lokal yang cukup besar. Bisnis konveksi yang digeluti khususnya di bidang tekstil kain ihram, kain ihramnya pun terus mengalami perkembangan yang pesat di pasaran, karena dalam berbisnis ia memegang prinsip dengan selalu menjaga kualitas produk, menjaga relasi/ silaturahim dengan para costumer dan mensejahterakan karyawanya. Alhasil berkat kerja keras itu bisnis konveksi kain ihramnya pun dikenal luas oleh masyarakat. Namun dimasa pandemi ini mendapatkan dampaknya juga, selain sepi ia juga mengalami sedikit penurunan dalam bisnisnya, karena di masa pandemi ini membuat Masjidil Haram ditutup yang berakibat para costumer pada enggan berbelanja keperluan logistik ibadah haji & umrahnya.
“Saya selalu antusias merekam perkembangan pengusaha muda. Mereka yang jatuh bangun, berproses, dan mati-matian memerjuangkan asa. Mau bertarung dan berkompetisi. Gak gampang oleng gegara pengalaman pahit.” tutur Attoillah
Selain mempunyai bisnis konveksi, Attoillah juga mulai merambah bisnisnya ke bidang kuliner, karena makanan merupakan salah satu kebutuhan dasar hidup setiap orang. Selain itu bisnis kuliner dikenal sebagai usaha yang cukup empuk karena memberikan potensi margin yang cukup besar. Perkembangan zaman membuat tren makanan yang bermacam-macam. Makan pun kini bukan sekadar ajang kebutuhan dasar namun juga sebagai gaya hidup. Tak heran jika makanan yang kita kenal sekarang ini memiliki variasi jenis, rasa, bentuk, dan nama yang bermacam-macam dan unik. Dengan mudah kita menemui berbagai kedai makanan baru baik di dalam mall maupun yang memiliki bangunan sendiri. Akan tetapi, sebagian besar variasi makanan itu ternyata mengadaptasi makanan khas dari luar Indonesia.
Dari situlah Attoillah memulai mencoba keberuntungan dalam berbisnis kuliner dengan mendirikan kafe yang ia beri nama “Burjoism” sebuah konsep warmindo ala kafe harga burjo tapi rasa borju. Agar bisnis kulinernya semakin maju, ia memiliki misi untuk terus menjaga kualitas produk, meningkatkan kesejahteraan karyawan serta memperkenalkan brandnya dan membuka cabang ke daerah lain seperti Batang, Pemalang, Tegal dan sekitarnya dengan menggunakan sistem yang ramah dengan market melalui membangun kedekatan emosional dengan pelanggan.
Ia sadar bahwa membangun bisnis itu ibarat membangun rumah, agar bisnis itu kuat maka pondasi awal yang dibangun harus dikuatkan terlebih dahulu . Pada tahap awal ia memfokuskan untuk membenahi sistem, karena tak dipungkiri banyak sekali pelaku kuliner yang gulung tikar dikarenakan terlalu dini yang justru berfokus terhadap orientasi omset di awal. Mayoritas karyawannya bukanlah berasal dari pelaku kuliner sehingga tidak memiliki pengalaman terhadap bidang ini sebelumnya. Namun berkat saling pengertian antar anggota di dalam tim sehingga bersedia saling belajar dan memaklumi.
Bisnis adalah sebuah media pembelajaran dan bertumbuh yang harus dibangun dengan sistem yang kokoh. Namun, beberapa pengusaha juga pasti pernah mengalami kegagalan dalam menjalankan bisnis. Akan tetapi, kegagalan tersebut justru akan menjadi suatu pembelajaran dan tantangan tersendiri bagi seorang pengusaha, hingga akhirnya kesuksesan dapat mereka raih sedikit demi sedikit dengan kerja kerasnya (NZ).
