ADILOKA.NEWS. Kegagalan adalah suatu hal yang biasa ditemui oleh seorang tokoh-tokoh besar yang berada di dalam bingkai untuk memulai usahanya. Kegagalan kerap kali mewarnai kisah perjuangan seorang pengusaha. Bagi beberapa pengusaha, kegagalan bisa dijadikan suatu alasan untuk berhenti. Namun, ada banyak pula pengusaha yang justru menuai sukses dengan bangkit dari kegagalan, Sebelum menjadi seseorang dengan nama dan bisnis besar, mereka diterpa bahkan dijatuhkan oleh masalah atau tantangan. Filsa Budi Ambia termasuk salah satunya. Dia tak pernah berhenti berjuang meski sempat mengecap gagal berbisnis.
Pria yang akrab disapa Filsa ini sudah punya mimpi jadi pengusaha sejak tamat SMK Bina Teknologi, Purwokerto. Lantaran tak punya modal, Filsa belum bisa mewujudkan mimpinya. Pada akhir tahun 2006, ia diajak kerabatnya hijrah ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Sebuah kota yang sering di-imagekan banyak orang kalau gaji kerja di kota ini cukup besar yang membuat Filsa merantau ke kota Kalimantan untuk mengumpulkan modal. “Niat saya pindah ke Kalimantan untuk mengubah nasib, terutama dari segi perekonomian,” ujar Filsa.
Begitu tiba di Balikpapan, tak sesuai apa yang dibayangkan sebelumnya Filsa tak segera mendapat pekerjaan. Tujuh bulan pertama, dia menjadi pengangguran tanpa penghasilan. Tanpa keahlian dan hanya bermodalkan ijazah SMK serta SIM yang ia punya, akhirnya, Filsa diterima bekerja menjadi driver di salah satu perusahaan tambang. Tiga tahun bekerja di perusahaan tambang sebagai driver, meskipun gaji pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari membuat ia terlena karena ia masih bisa bertahan hidup. Suatu hari ia tersadar dan berhasil menampar keterlenaannya setelah bertemu sosok rekan kerjanya yang sudah lanjut usia dan telah bekerja selama 25 tahun, namun selama berpuluh tahun itu baru bisa DP rumah. “Sudah setua ini baru bisa DP, masak saya harus kerja sampai tua baru bisa DP rumah. Tujuan saya datang ke kota ini untuk sukses saya gak mau kerja sampai tua jadi karyawan” pikiran itu menjadi terngiang-ngiang di benak Filsa hingga membuat gundah dan bingung kembali.
Suatu ketika Filsa melihat acara televisi Tukul Arwana dan ada ucapan Tukul mengatakan bahwa “Kalau mau sukses banyak baca buku”. Akhirnya ia mempraktekkan apa yang dikatakan Tukul, Filsa mencoba mencari-cari referensi buku yang bisa membuka mindsetnya di toko-toko buku. Saat membeli buku ia melihat baner terpampang yang bertuliskan “Cara Gila Menjadi Pengusaha Modal Dengkul”, membaca baner itu membuat Filsa semangat berbinar bahwa ini yang ia cari karena ia hanyalah lulusan SMK dan tidak memiliki keahlian. Ia mengumpulkan uang untuk mengikuti seminar kala itu. Filsa pun mulai mencoba mengikuti seminar untuk mengubah hidupnya, Suatu ketika ada mentor yang menyampaikan bahwa “Bisnis itu seperti Pacar, Marah Kalau diduakan, Jadi Bisnis tidak bisa Diduakan dengan Kerja Karyawan” Hal itu yang membuat Filsa menuliskan sepucuk surat memajukan diri menjadi pengusaha ke HRD perusahaannya.
Keluar dari perusahaan, membuat ia bernafas lega karena ia bisa bebas dari rutinis kerjanya dari shubuh hingga malam. Usaha pertama yang ia jalani ialah mendirikan warung makan. Dengan modal Rp 10 juta yang ia kumpulkan dari hasil kerjanya sebagai driver, Filsa menyewa tempat dan menyajikan menu seperti ayam bakar, ayam goreng, dan lain-lain. Akan tetapi, usaha ini hanya bertahan selama empat bulan. Hal ini membuat pikiran Filsa buntu dan meminta pertanggungjawaban mentor yang membuat ia keluar kerja dan mencoba meminjam modal kepada mentornya. Namun tidak ada yang mau memberikan pinjaman dan hanya berpesan satu kata “semoga sukses”. Ia pun semakin bingung, suatu ketika ia mendengar motivasi pengusaha sukses yang menyampaikan “Kalau mau cepat sukses itu nikah, rejeki 1 orang dengan 2 orang itu beda”. Akhirnya Filsa nekat nikah meskipun tidak punya modal, dan cincin kawin yang ia beli dari kartu kredit yang ia punya.
Setelah menikah, Filsa mencoba berbisnis martabak mini franchise yang sudah memiliki 35 cabang, namun ia juga harus menerima pil pahit, bisnis martabak mininya juga bangkrut di tahun 2012. Kepahitan seperti itu tidak berhenti di hidup Filsa pada saat itu. Pria itu harus menanggung hutang lebih besar lagi karena menjadi korban penipuan yang mengaku ingin berinvestasi di bisnis martabaknya. Uang tersebut raib dibawa oleh si penipu di saat Filsa juga mendapatkan uang itu dari berhutang.
Di masa itu, ia seakan-akan berada di titik terendah namun harus tetap survive, Filsa akhirnya menggadaikan cincin kawin untuk bayar kontrakan rumah, susu anak. Ia bahkan sempat memutuskan pulang kampung Jawa karena sama sekali tidak ada amunisi untuk bertahan hidup. Uang terakhir yang punya saat itu adalah seratus ribu. Tetapi ia tak patah semangat, karena ia masih punya dengkul kaki, tangan dan otak untuk modal utamnaya. Bermodalkan Rp 100 ribu, ia memberanikan diri untuk mendirikan usahanya sendiri, kala itu ia melihat potensi limbah kepiting dan ingin memanfaatkannya menjadi makanan yang dekat dengan masyarakat, yakni peyek. Ia mengolah berbagai jenis hidangan laut, salah satunya kepiting. Peyek kepiting buatan Filsa ini terbilang sukses. Kampoeng Timoer menjadi merek dagang dari usaha olahan laut milik Filsa.. Kampoeng Timoer disebut sebagai oleh-oleh nomor satu dari kota tempat tinggalnya, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Tak berhenti disitu, Filsa pun ingin memperluas market usahanya tidak hanya di Kota Balikpapan tetapi juga di seluruh Indonesia. Ia kemudian melakukan ekspansi usahanya di tanah Jawa tepatnya di Yogyakarta dan mendirikan Mistercrabs juga merupakan olahan kepiting, hanya saja difokuskan untuk diedarkan di luar Balikpapan. Peyek mungkin terlihat seperti sederhana, namun siapa sangka, Filsa bisa meraup untung besar dari bisnis ini. Ketika masih berjalan selama dua tahun saja, ia sudah mendapatkan omzet ratusan juta. Setelah bisnisnya berkembang dan sudah beredar di seluruh wilayah Indonesia serta masuk pasar ritel modern, omzet yang didapat Filsa menyentuh angka miliran rupiah. Peyek kepiting milik Filsa kini sudah di tersedia di berbagai kota di Indonesia. Bisnis yang besar itu tentu saja tidak muncul begitu saja melainkan berawal dari sebuah bisnis kecil. Adapun upaya untuk menumbuhkan bisnis itu hingga besar, Filsa harus harus jatuh berkali-kali, namun tetap berusaha bangkit Kembali dan mengingat mimpinya untuk menjadi orang yang sukses.
