ADILOKA.NEWS. “Bagaimana sebaiknya sikap yang diambil oleh entrepreneur, apabila kegiatan bisnisnya terkena dampak krisis ekonomi?
Berpikir optimis bagi seorang entrepreneur dalam menghadapi krisis adalah seperti seorang akrobatik yang tengah meniti tambang. Kita pun bisa sebagaimana seorang pesulap yang melepaskan diri dari ikatan. Dalam kaitan ini, bahwa entrepreneur itu harus secara terus menerus dapat melihat peluang yang tidak dapat dilihat oleh orang lain, tidak pernah merasa puas, dan bisa mengeksploitasi sekecil apapun perubahan yang ada.
Sebagai seorang entrepreneur kita harus tahu, kapan harus menjemput bola, dan kapan harus melepas bola. Bahkan, saya pun harus tahu bagaimana cara memanfaatkan bola liar atau bola muntah di depan gawang. Oleh karena itu, kita harus mempunyai winning commitment atau komitmen untuk menang atau komitmen untuk berhasil secara tepat dan memadai. Dengan cara itu, tetap berpikir optimis dalam menerjuni bisnis. Tidak boleh mudah terkejut oleh kesulitan, bahkan dengan adanya kesulitan itu saya harus mencari semakin optimis untuk mencari pemecahannya dan semakin memupuk sifat ketabahan. Artinya dengan memiliki sifat tabah, kita akan tetap siap menghadapi segala kemungkinan, terutama ketika orang lain mengalami putus asa karena menghadapi krisis.
Memang harus kita akui, dalam kondisi seperti itu, ada kelompok yang pesimis, loyo atau tidak bergairah dan bersikap menyerah pada nasib, selain itu ada juga kelompok yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam kondisi krisis saya yakin bahwa saya sendiri maupun entrepreneur yang lain masih tetap ada proses bisnis di masa depan. Dengan kata lain, entrepreneur dituntut tetap tangguh yang didukung oleh spirit, wawasan, dan pengetahuan dan keterampilan manajerial yang handal, serta mampu menyesuaikan dengan perubahan yang sanagat cepat. Selain itu, seorang entrepreneur harus lebih jeli memanfaatkan situasi, misalnya jeli dalam memandang bagaimana krisis ekonomi ini bisa dimanfaatkan untuk bisa mencari peluang.
Oleh karena itu saya yakin bahwa aneka peluang muncul justru pada saat kita sedang krisis. Saat dalam kondisi normal dan baik, itu memang bagus, tetapi pada saat dilanda krisis, kalau dapat kita harus lebih bagus lagi. Kita semua harus meyakini hal itu.
